Bumi Manusia, Review Film Pergulatan Cinta Karena Kelas Sosial
Bumi Manusia, Review Film Pergulatan Cinta Karena Kelas Sosial

Saat dikenalkan pertama kali tidak ada yang menduga, salah satu buku terbaik karya Pramoedya Ananta Tour yang berjudul Bumi Manusia akan difilmkan. Disutradarai oleh Hanung Bramantyo Film ini menempatkan Iqbal Ramadhan Mawar Eva de Jongh, Ine Febriyanti, Ayu Laksmi, Donny Damara untuk tampil di filmnya.

Seandainya via buku, Pram mampu menciptakan narasi yang luar lazim cantik, lalu bagaimana dengan film Bumi Manusia? Berikut ulasannnya. Era kolonial yaitu masa-masa dimana semuanya serba sulit. Kerangka berdaya upaya dibuat via framing-framing subjektif. Pribumi-Belanda dan Nyai yaitu bagian-bagian dari semuanya ini. Pertemuan antara Minke (Iqbaal Ramadhan) dan Annelies (Mawar De Jongh) hanyalah bagian mulanya saja.

Minke nama panggilannya. Seorang pribumi yang belajar di HBS (Hogere Burger School), alias sekolah menengah umum untuk kaum Belanda dan para priyayi. Di masa-masa remajanya, dia jatuh cinta pada Annelies, gadis cantik yang kekanak-kanakan, putri Nyai Ontosoroh dan Herman Mellema. Kisah cinta Minke dan Annelis tumbuh di antara sekian banyak persoalan sosial dan ketidakadilan di masa penjajahan Belanda. Lahir dari jari sastrawan Pramoedya Ananta Toer melewati buku Bumi Manusia.

Tentu Bumi Manusia tidak cuma berpusat pada kisah cinta. Ada juga perjuangan Nyai Ontosoroh, istri simpanan Herman Mellema yang dipandang miring oleh masyarakat, melainkan kemudian belajar menjadi pengusaha ulung. Bumi Manusia juga menjadi fase saat kesadaran Minke kepada rasa kebangsaan dan kemanusiaannya bangkit melewati pertemuan dan benturan dengan bermacam-macam sosok. Tiga puluh sembilan tahun semenjak bukunya rilis -kemudian sempat dilarang beredar di era Orde Baru-cerita Minke kini timbul di layar perak. Bumi Manusia disadur ke dalam film yang digarap oleh Sutradara Hanung Bramantyo. Indonesia tentu sudah berubah.

Polemik dan Polemik dari Masing-masing Pemeran Bumi Manusia

Perdebatan demi polemik terasa cuma sekadar hadir demi kelengkapan, melainkan tidak jauh masuk ke dalam pergulatan batin masing-masing karakter. Kisah malah lebih banyak berpusat pada Nyai, Minke, dan Annelies. Pemilihan Iqbaal Ramadhan untuk menarik ketertarikan penonton milenial mungkin sukses. Tapi, dia belum mampu menghadirkan sosok Minke sebagai karakter pemuda pergerakan secara total. Iqbaal dalam beberapa adegan seperti sirna arah, dengan mata yang belum mampu memberi tahu gejolak emosi dalam sosok Minke.

Sebelum syuting mulai, Hanung sebetulnya sudah menyiapkan Iqbaal dengan bermacam-macam perlakuan seperti membuat sang pemeran film pria menikmati jadi ‘budak’. makan nasi di lantai, serta menjalankan semua pekerjaannya sendiri. Tapi rasa-rasanya belum sepenuhnya sukses.

Sebaliknya, Mawar de Jongh terbilang cukup baik membawa karakter Annelies. Yang masih menjadi catatan, karakternya yang kekanak-kanakan dan manja masih kurang tereksplorasi. Mawar dapat saja terbantu dalam eksplorasi karakter itu saat bertemu May Marais yang berkunjung ke rumah bersama Minke dan Jean. Tapi, adegan itu tak masuk dalam versi filmnya.

Sementara Sha Ine Febriyanti yang berperan sebagai Nyai Ontosoroh wajib terapresiasi. Secara, dalam momen ia menjalani pengadilan kulit putih dan mendapatkan perlakuan sebagai masyarakat kelas ketiga. Sayangnya, banyak gejolak dan kisah hidup Nyai Ontosoroh tidak terceritakan lebih dalam. Misalnya, saat Nyai demikian itu membenci sang ayah sebab menjualnya kepada seorang pengusaha demi jabatan, juga sang ibu yang  ia anggap tidak berupaya keras membelanya. Alangkah pergolakan itu sebetulnya mempunyai korelasi emosi yang demikian itu besar dengan adegan penutup, saat mereka keok dalam pengadilan dan wajib melepas Annelies ke Belanda.

Untungnya, adegan itu tertolong nyanyian pengiring  ‘Ibu Pertiwi’ yang dinyanyikan Iwan Sumbang, Once, dan Fiersa Besari. Momen itu membuat bulu kuduk berdiri, terpenting saat Nyai menuturkan kutipan legendaris Pram: “Kita sudah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Karakter Menarik pada Film

Karakter lain yang wajib mendapatkan apresiasi ialah Jerome Kurnia yang memainkan Robert Suurhof. Dalam adegan pembuka, kepiawaian Jerome bertindak sebagai orang Eropa dengan kemampuannya berbahasa Belanda cukup mengesankan. Dialog serta tingkah asisten Annelies juga menjadi salah satu adegan yang memberi kesejukan dan memancing gelak tawa penonton.

Kelly Tandiono berperan sebagai Maiko, salah satu pelacur rumah Bordil Babah Ah Tjong yang ikut menjadi salah satu karakter yang menarik. Sayangnya, kisah hidup Maiko pada film tidak terbongkar secara mendalam. Walaupun, ini menjadi satu komponen menarik perihal pergolakannya bertahan hidup. Kecuali itu, karakter tangan kanan Nyai Ontosoroh, Whani Darmawan yang berperan sebagai darsam, malah tergambar demikian kuat.

Selebihnya, karakter-karakter seperti Herman Mellema, Jan Dapperste atau Panji Darman, Robert Mellema, Ayah dan Ibu Minke terasa ideal. Dari sisi sinematografi, usaha Hanung untuk menghadirkan keadaan kehidupan masa kolonialisme cukup sukses. Hanung malah cukup sukses menjadikan adegan pembuka dengan menghadirkan arsip orisinil kehidupan masa kolonialisme dengan narasi yang tersampaikan oleh Minke – persis seperti buku.

Di balik itu, masih ada beberapa catatan teknis, terpenting pemilihan warna (tone) yang terlalu mencolok. pula beberapa komponen CGI yang kentara, terpenting saat menampakkan gambar kapal pesiar. Keseluruhan, film Bumi Manusia dapat anda nikmati. Setidaknya, usaha Hanung mengadaptasi Bumi Manusia dengan semua persoalan menterjemahkan buku ke medium film dapat ksmi katakan cukup sukses. (vws)