Film Joker - Menggali Kisah Gelap, Muram & Berbahaya

Dalam film joker ini, semua kepuasanmu tentangnya akan terbayarkan. Tanggal 2 Oktober 2019, film Joker hadir di layar kaca semua dunia untuk menerangkan kegilaannya. Jauh sebelum menjadi Joker, Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) hidup sepi dalam gaduhnya Gotham. Tanpa sosok Ayah, satu-satunya sahabat yang dia miliki ialah Ibunya yang rapuh, Penny Fleck (Frances Conroy). Arthur menjalani kehidupan sehari-harinya menjadi dua sosok badut; yang pertama ialah pekerjaan sehari-harinya sebagai badut sewaan, yang kedua ialah sisi aslinya. Menjadi badut membuatnya merasa diterima di masyarakat, walau dia konsisten tak jarang dikerjai dan diolok sekelilingnya.

Pilu. Tragis. Kegilaan yang mendalam. Tiga hal hal yang demikian ada di hampir semua bagian dari film Joker (2019). Untuk sebuah film yang mengangkat karakter dari komik, cerita film yang dibintangi Joaquin Phoenix ini amatlah gelap. Butuh kesiapan mental untuk bisa menerima dan memahami semua hal yang dilewati oleh Fleck. Dalam konteks ini, sutradara Todd Phillips sungguh tak membuat Joker sebagai hiburan yang mudah ditelan semacam itu saja.

Konflik-perselisihan sosial seperti persoalan kesehatan mental, benturan antar-kelas, hingga politik manipulatif ditampilkan secara riil dan gamblang. Termasuk perjalanan kejiwaan Fleck, dari semula seorang yang tertindas menjadi penjahat berdarah dingin yang tak merasakan apa-apa saat mengambil nyawa seseorang. Kali ini, penonton benar-benar diinginkan mematuhi tata tertib berkaitan klasifikasi umur dari institusi sensor. Joker sungguh dijadikan untuk penonton umur 17 tahun ke atas.

Walau mendapat panggilan “Happy” oleh Ibunya, Arthur tak pernah merasa gembira sekali malah. Hadirnya Murray Franklin (Robert De Niro) justru membawa kekecewaan baginya. Lalu bagaimana transformasi Arthur Fleck menjadi Joker? Apa titik balik baginya? Apa hubungannya dengan Arkham State Hospital (Arkham Asylum) Tersutradarai dan diproduseri oleh Todd Phillips, Joker ialah pengungkapan mitologi yang tak pernah disentuh dalam film-film Joker sebelumnya.

Konflik Film Joker

Berada dalam kurun waktu di tahun 1981, Joker menyebutkan permulaan mula kekacauan kota Gotham. Bila dalam film-film sebelumnya kita selalu tersuguhkan Gotham sebagai kota yang hancur dan gagal, kita akan memandang bagaimana itu semua berawal. Kita akan masuk ke dalam rusuhnya kota yang tak jarang kita jumpai; orang jahat berkeliaran, perbedaan si kaya dan si miskin, dan kekecewaan kepada pemerintah. Dan Arthur ialah salah satu orang yang gagal bereaksi kepada itu. Mirisnya, ia wajib menghadapi semuanya seorang diri.

Seolah harus menjadi mengerti, tapi Joker tetaplah Joker. Sedalam apa malah kita mencoba mengerti, tapi ia susah sekali anda pahami. Joker mencoba membawa kita berdiri dalam persepsinya. Jangan terkejut jika dalam beberapa saat, kau berharap membela semua yang ia laksanakan. Tapi juga jangan terkejut jika setelah menyadari itu semua, kau merasa mempermainkan oleh pikiran-pikiran Arthur.

Todd Phillips dengan mahir membawa kita berputar-putar untuk memandang Joker dari beragam sisi, tanpa kita sadari. Piawainya akting tiga kali peraih nominator Oscar Joaquin Phoenix memainkan mimik, jangan harap dengan menonton Joker kau akan bisa memahami isi kepalanya. Hampir dari permulaan hingga akhir, wajah Joaquin Phoenix benar-benar mengisi film ini. Todd Phillips benar-benar mengerti bahwa untuk membawa kita masuk ke dunia Joker, ekspresi wajah ialah kunci. Jadi jangan heran jika wajah Joaquin Phoenix dan ekspresinya benar-benar memainkan emosimu sepanjang dua jam film. Joker mengisahkan beragam kekerasan baik lahiriah ataupun mental yang terpaksa ia terima dan ia lewati oleh Arthur Fleck (Phoenix), seorang komedian gagal.

Pengaruh Kurangnya Cinta dan Apresiasi

Peringatan ini bukan sekedar menakut-nakuti atau malah berlebihan. Online malah mengeluhkan hal serupa. Todd Phillips bukan cuma menandakan semua kepiluan Fleck, tapi membawa penonton ikut serta merasakannya. Bukan cuma itu, beragam kekerasan juga menampilkan secara gamblang, atau setidaknya mampu membuat penonton terdiam seribu bahasa.

Di sisi lain, Joker juga menandakan betapa buruk pengaruh yang timbul kepada seseorang yang merasakan kekurangan cinta, apresiasi, penerimaan, dan kasih sayang dari sekelilingnya. Dan lagi kegagalan pemerintah dalam membantu mereka yang termasuk dalam kaum marjinal – termasuk orang-orang yang membutuhkan bantuan psikolog profesional.

Kondisi yang sesungguhnya bisa terjadi dengan siapa malah di dunia ini, bukan cuma Joker. Seluruh keadaan malang nan mengenaskan itu teralami oleh Fleck yang sesungguhnya juga tumbuh dengan syok dari masa kecil mengakar dalam kejiwaannya. Sedangkan untuk Joaquin Phoenix, sebuah Piala Oscar amatlah sesuai untuk dirinya. Dia malah selama ini cuma pernah menerima nominasi sebanyak tiga kali, sekali untuk Best Supporting Actor, dan dua kali sebagai Best Actor.

Dengan penampilan Phoenix sebagai Joker, dia sejatinya telah memenangkan hati para penonton. Sorot mata, raut wajah, gerak tubuh, malah tawanya mampu menyampaikan kesakitan yang ia alami serta tragis hidup seorang Arthur. Bila memperbandingkan Phoenix dengan Heath Ledger sebagai salah satu penggiat seni pria terbaik yang memerankan Joker, keduanya ialah versi berbeda dan susah untuk dibandingi. Joaquin Phoenix hebat memainkan Arthur Fleck sebelum menjadi Joker. Sedangkan Heath Ledger ialah versi terbaik setelah menjadi Joker.

Baca Juga : Drama Its Okay, Thats Love – Pasien Gangguan Mental dan Phobia Sex